• Arti Perting Film
Pengalaman menonton film di ruang gelap telah dinikmati orang sejak awal masa awal munculnya medium ini. Ini adalah pengalaman hebat, yang membuat film memiliki kekuatan spesial dalam membentuk nilai-nilai kultural.
Pengalaman yang amat mengasikkan
orang terpesona oleh film sejak penciptaan teknologi film itu, meski gambar saat itu tak lebih dari gambar putus-putus dan goyang-goyang di tembok putih.
Pada saat sekarang ini, teknologi semakin canggih, tak heran jika semua ide-ide manusia di tuangkan dalam pembuatan film, pada dasarnya film membuat semua orang terkesan melihatnya, membuat sesuatu yang ditayangkan menjadi hidup difikiran setiap penontannya.
• Pengaruh Kultural Hollywood
Film adalah bagian kehidupan sehari-hari dalam banyak hal. Bahkan cara kita bicara sangat di pengaruhi oleh metafora film.
Karena danya pengaruh film yang sebagian riil dan sebagian tidak, maka penting untuk mengetahui tentang industri yang membuatnya, sekarang program pertelevisian sebagian besar di kuasai oleh Hollywood dan Industri buku, Majalah, serta rekaman yang sudah terkait erat dengan industri film ini.
Pengaruh yang di keluarkan sekarang adalah lebih meluasnya jangkauan yang tidak sebaik dulu, dulu film dibuat karena kekreatifitasan dan keinginan, tapi sekarang para sutradara lebih mengutamakan artis yang dipakai untuk adegan film dan sebagian film terebut tidak ada unsur kependidikannya.
• Teknologi Film
Teknologi film ( motion picture ) didasarkan pada proses kimia seperti fotografi. Medium ini dikembangkan pada 1890-an. Pada 1930-an bioskop sudah ada dimana-mana menayangkan “talkies”. Sekarang, pengambilan gambar dan editing secara digital mulai mengubah produksi, distribusi, dan penayangan film.
Kita sebagai penerus masa depan, seharusnya bisa mengembangkan bakat dan minat sekaligus meneruskan apa yang sudah ada, seperti perfilman yang semakin tahun semakin canggih, kita di Dakwah harus memotifasi diri untuk membuat karya yang mengangkat film lebih membawa ke arah yang baik, seperti berdakwah lewat film atau membuat film yang banyak mengandung unsur kependidikan dan pesan-pesan yang baik.
• Adaptasi Dari Fotografi
Dahulu teknis film adalah fotografi, penemuan tahun 1727 bahwa cahaya menyebabkan nitrat perak menjadi gelap adalah dasar dari perkembangan teknilogi film. Mata manusia menangkap gambar sepersekian detik. Jika serangkaian foto menangkap sesuatu yang bergerak dan jika foto itu digerakan secara berurutan dengan cepat, maka mata manusia akan melihatnya sebagai gambar yang bergerak tak putus-putus.
William Dickson dari laboratorium Thomas Edison menggunakan film seluloid yang kemudian disempurnakan oleh George Eastman, yang memperkenalkan kamera kodak. Pada 1891 Edison mulai mmproduksi film.
• D-Cinema
Kamera dan perlengkapan editing lebih mudah dipakai ketimbang peralatan film seluloid. Jadi dahulu pembuatan film masing menggunakan film pita yang kecepatan transisinya masih sulit diperkirakan, tetapi dengan keuntungan ekomini yang dihasilkan oleh film pita akhirnya berakhir dan muncul adanya tekniligi digital yang pembuatan film lebih efisien dan tidak menggunakan peti film yang harus dikirim ke gedung-gedung bioskop dengan truk.
Sekarang adalah zaman yang saling bersaing dalam teknologi, pada dasarnya teknologi sama-sama mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan semuanya bertujuan sama itu adalah untuk manusia melihatnya dengan cara yang lebih indah, ini sebenarnya bukan masalah persaingan tetapi masalah memenuhi batas ketinggian penglihatan manusia, jadi buat apa saling bersaing, semua manusia mempunyai pilihan masinh-masing, yang paling penting dalam perfilman adalah kita menunjukan karya yang baik dan bermanfaat.
• Struktur Industri Film
Industri Film terdiri dari tiga komponen utama: produksi, distribusi, dan eksibisi.
• Studio dan Produksi
Nama-nama perusahaan yang cemerlang dalam bisnis film adalah studio-studio besar yang merupakan jantung dari komponen Produksi.
Studio Besar, beberapa studio adalah brand name, sekitar 90 persen dari pendapatan box office berasal dari Big Six: Columbia.
perusahaan ini disebut studio karena masing-masing dahulu pernah punya area set panggung-studio. Studio pernah mengalami penyusutan karena antimonopoli dari MA Amerika, tetapi tidak berjalan lama muncul aktor atau para pekerja film yang sudah handal dalam karir yang membuat semakin berjaya.
Seperti sekarang banyak sutradara di Indonesia yag sudah terkenal karena film-filmnya, tidak heran bahwa mereka telah menikmati hasil jerih payahnya setelah berusaha yang keras,
Dahulu perusahaan besar bersaing dengan perusahaan yang tidak satu arah seperti Hollywood yang bersaing dengan Coca Cola karena Coca Cola mampumembeli studio Columbia, dan bersaing pula dengan Sony, tetapi di Indonesia sekarang bersaing hanya dalam satu arah perfilman bersaing dengan perfilman yang lain, tidak seperti dulu, jadi kita harus mensyukuri, kita hatus mampu membuat film yang berkelas karena persaingan lebih tajam.
• Eksibisi
Industri film dahulu mendapatkan semua penghasilannya dari eksibisi atau pertunjukan / penayangan film-di gedung bioskop, di mana konsumen membayar untuk menonton film. Penerimaan itu, yang di sebut box office dibagi antara pemilik gedung dengan distributor, dan distributor menggunakan bagiannya untuk membayar studio sebagai uang untuk hak distribusi. Dan jika pembayaran dari komsumen lebih itu saling menguntungkan bagi distributor dan pemilk bioskop karena mendapatkan sisa uang yang sangat banyak.
Hal ini sama seperti sekarang, maka dari itu banyak orang yang mendirikan bioaskop karena menjanjikan uang yang mengalir. Keuntungan yang di dapat, dapat menutup biaya pembuatan film, lebih bagus film lebih banyak uang yang dapat.
Mari kita membuat karya yang baik, sesuatu di coba tidak harus mulus tapi melalui tahapan jadi dalam dakwah mari kita manfaatkan pembuatan film yang mengandung berdakwah, banyak ulama yang sudah terkenal karena muncul ditelevisi dan itu mengundang orang untuk mendengarkan dan melihat isi dari ceramah tersebut.
• Aspek Ekonomi dan Film
Studio-studio besar juga mendapat keuntungan ekonomi dalam memiliki proyek-proyek yang dibuat oleh produser independen dan mendapat modal dari usaha-usaha pelengkap film.
• Pembiayaan Studio
Studio Besar membiayai banyak film dengan menggunakan laba yang mereka peroleh dari film sebelumnya. Studio mengambil resiko dengan mengedarkan sendiri film itu, sebuah usaha yang menguntungkan karena melibatkan penyewaanke gedung bioskop dan televisi.
Studio besar adalah bagian dari konglomerat yang bisa mengambil dana dari perusahaan induknya.
Bank. untuk menutupi biaya produksi, studio meminjam uang ke bank dengan jaminan asek mereka, seperti fasilitas produksi dan segudang film yang menunggu untuk dirilis. Dengan meminjamkan uang sejak berdirinya Hollywood, Bank of Amerika di California kini menjadi salah satu bankn terbesar di seluruh Negeri.
• Produser Independen
Tak banyak peluang bagi Prodeser Independen untuk mendistribusikan film mereka kejaringan bioskop. Big Six mengontrol hampir seluruh sistem. Tetapi kini telah berubah drastis. Sekarang studio besarmencari produser independen untuk mengambil filmnya.
Produser Independen menunjukan bahwa studio besar tak punya monopoli atas orisinilitas dan kreativitas. Tetapi orang-orang seperti ini adalah orang diluar mainstream.
• Purna Pasar
Sekarang, ketika pembuat film berencana membuat film, mereka akan menyusun anggaran yang mengantisipasi pendapatan di luar pemutaran film di bioskop.
Berbeda dengan di masa lalu, ketika film sukses atau tidak, pembuat film akan mendapat lebih dari 5,7 persen dari pendapatan dari penayangan di Televisi sepetri HBO setelah film itu tidak lagi diputar di bioskop.
• Usaha Pendukung
Studio film punya sumber pendapatan dari kegiatan pendukung atau pelengkap di luar penjualan tiket film.
Tetapi sekarang sudah ada iklan yang menjadi salah satu pendukung film, konsumen biasanya akan lebih tertarik jika film tersebut di jeda oleh iklan dalam televisi.
Selain iklan masih ada beberapa yang bisa mendukung sebuah film seperti:
Mainan: biasanya menggunakan film kartun, dari awal memang film kartun sangan direkayasa dan itu memerlukan alat untuk membuat film atau gambar yang unik dan berbeda seperti biasanya, pada akhirnya film kartun dirintis dan mendapatkan hasil yang tidak di perkirakan.
Musik: adalah salah satu sumber pendapatan dari film. Dahulu setiap Bioskop disediakan pemain musik yang dirasa mendukung suasana adegan dilayar. Sekarang musik memegang peranan penting selain mendukung adegan di layar. Ia menjadi pusat profit agi pembuat film- hitung saja jumlah lagu di credit title yang di tayangkan di akhir pemutaran film.
• Penempatan Produk
Pembuat film juga mulai membangun produk komersial dalam lini cerita melalui iklan terselubung. Dalam penempatan produk di film, perusahaan yang meminta produknya di iklankan di dalam film harus membayar anggaran yang sudah di sepakati dan biasanya hasil yang di dapat produk penjualan meningkat tajam dalam beberapa bukan kemudian.
Para pengkritik mengatakan bahwa Penempatan Produk ini adalah suatu yang licik. Di lain pihak, orang-orang film mengatakan bahwa penggunaan produk rill akan menguatkan kredibilitas film.
• Isu dan Tren Film
Respons awal Hollywood terhadap televisi adalah berupa melawan tindakan medium baru itu dengan inovasi teknik. Kemudian kuncul film dengan isi yang tajam. Sekarang, film dan televisi saling terkain secara finansial dan teknologi. Tetapi sensor merupakan isu abadi.
• Tantangan Televisi
Film amat menarik, Film adalah bentuk hiburan yang unik, penjualan tiket mencapai 90 juta tiket dalam seminggu pada 1946. Kemudian datanglah Televisi
Untuk membedakan diri dari televisi, industri film berusaha menciptakan inovasi teknik. Seperti menyediakan pengharum ruangan di bioskop dan memberikan hadiah untuk para penonton bioskop.
Televisi di tantang untuk membuat karya sepetri film, film bisa membuat film yang spektakuler yang membutuhkan anggaran sangan besar dan harus bisa membayar ratusan pemain figuran sepeti yang dilakukan oleh film.
Sekarang itu sudah biasa muncul dan di buat oleh pertelevisian.
• Inovasi Isi
Karena sedang mengalami pertumbuhan tingga, para eksekutif televisi meresa tak perlu menyaingi apa-apa yang di lakukan Hollywood iti. Sementara itu Hollywood terus mencoba hal baru.
Sekarang, televisi mempunyai banyak variasi untuk menghadirkan inovasi-inovasi baru semua yang difikirkan bisa di tuangkan dalam pembuatan karya dalam teevisi baik itu buruk dan baik.
Banyak di televisi muncul inovasi-inovasi baru yang berkaitan dengan dakwah, setiap pagi di stasiun-stasuin televisi yang banyak menayangkan ceramah-ceramah pagi yang itu bisa membuat motifasi untuk menjalani hari-hari lebih semangat.
• Peleburan Media
Dulu, mereka mendapatkan uang hasil pembuatan film langsung untuk menyumbang perekonomian di AS dan ini sangat terkait dengan Televisi. Peleburan media juga bisa dengan cara pemutaran ulang ( replay ) program yang mereka produksi.
• Film Dokumenter
Film dokumen bukan barang baru. Film nonfiksi ini mengeksplorasi kejadian historis atau masa kini dan fenomena alam dan sosial. Film dokumenter biasanya di buat dengan berimbang dalam meliputi subyeknya.
Sepetri halnya film Wali Songo yang jadi salah satu film dokumenter indonesia dan itu pula isinya menyangkut dalam Dakwah.
• Sensor Film
Ketika ada yang tidak beres dalam masyarakat, orang biasanya mencari penyebabnya, meski tak bisa di bilang logis, adalah mudah untuk menyalahkan sesuatu yang baru sebagai timbulnya penyakit sosial.
Biasanya di indonesia sensor di pakai untuk adegan yang tidak pantas untuk di lihat, karena penonton bukan hanya dewasa, tetapi anak kecilpun ikut menonton, maka dari itu sensor di berlakukan dan selain adegan yang tidak baik, kata-kata kasar atau kata yang tidak pantas untuk diucapkan atau ditiru biasanya di sensor.
• Media Literasi dan Film
Ukuran populis atau kesuksesan film adalah penerimaan Box Office, atau sekarang biasa di sebut sebagai penghargaan ( Aword ), sukses kritis sulit untuk di ukur, pengulas yang berwawasan luas dan canggih amat membantu.
• Box Office dan Pendapatan Kotor
Dahulu para eksekutif pada akhir pekan mengalami kegugupan karena takut film yang di tayangkan tidak memuaskan atau tidak seperti yang di harapkan. Film baru yang baik bisa rugi jika dibuka bersamaan dengan film saingan yang lebih kuat, dan sebaliknya.
Isyarat yang paling tidak andal untuk mengukur kesuksesan film adalah promosi marketing yang mengiringi peluncuran film. Aktor dan sutradara yang menggelar talk-show kelihatan amat bersemangat, bagaimana mereka tidak bersemangat jika karier mereka dipertaruhkan.
• Kritik Film
Sukses komersial tidak selalu sejajar engan sukses kritik, yang merupakan rating subjektif. Pengulas terbaik mengetahui film sebagai sebuah medium, termasuk seni pembuatannya. Meski begitu Anda perlu mengetahui pengulas dan kekuatan serta kelemahannya. Pada akhirnya, Anda adalah sebagai konsumen media yang membuat penilaian kritis. Penilaian kritis Anda berasal dari Informasi dan kecanggihan Anda yang makin meningkat berkat dialog yang dilakukan para kritikus film itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar