METODE DAKWAH RASULULLAH
Dengan memperhatikan sejarah dakwah sejak awal diutusnya Nabi s.a.w., kita akan menyaksikan betapa dakwah ini berjakan sesuai dengan prosedur yang tepat, dari tahap perencanaan sampai pelaksanaannya.
Muhammad Rasulullah s.a.w., seorang da’i internasional, pembawa agama islam dari tuhannya (Allah) untuk seluruh alam. Beliau di dalam membawa missi agamanya menggunakan berbagai macam metode antara lain:
1. Perencanaan Nabi Pada Fase Awal Peride Mekah ( Dakwah Tertutup )
a. Dakwah di bawah tanah.
Sejak di turunkannya wahyu ( Al-Qur’an ) yang pertama yakni:
Artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar manusia apa yang telah diketahuinya”. (Q.S. Al-“Alaq 1-5).
Muhammad terangkat sebagai seorang utusan Allah (Nabi) membawakan missi agamaNya, yakni islam. Di dalam membawakan missi agamanya beliau mula-mula bergerak secara diam-diam (berdakwah di bawah tanah). Hal ini disebabkan beliau masih belum mempunyai sahabat sebagai pembantu dakwahnya. Di lain itu Rasulullah saw. Menyesuaikan dengan keadaan di daerah setempat (Mekah). Di mana di daerah itu mayoritas masyarakat menyembah berhala (musyrik) yang belum mengenal siapakah Allah itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa orang-orang mekah (Quraisy) sangat kejam, bila diajak menyembah selain Tuhannya (Berhalanya).
Mereka menganggap Muhammad adalah tukang sihir, yang hendak menghancurkan agama nenek moyang Quraisy Mekah. Oleh karena itu metode dakwah Rasulullah sangat bijaksana, walaupun secara diam-diam, tetapi sesuai dengan karakteristik sasaran dakwahnya.
2. Perencanaan Nabi Pada Fase Kedua Periode Mekah ( Dakwah Terbuka )
a. Dakwah secara terang-terangan.
Sejak turunya wahyu yang pertama, Rasulullah saw. Sangat lama menunggu kedatangan wahyu yang berikutnya. Tiba-tiba turunlah yang kedua yakni:
Artinya: “haaai ! orang yang berselimut ! bangunlah, sesudah itu mengajaklah . . . . . . “( Q.S. Mudatsir 1-2).
Wahyu yang kedua memberikan perintah kepada Nabi Muhammad saw. Supaya menyeru (mengajar) manusia kepada agama islam, Agama yang diridhoi Allah swt. Dari wahyu yang kedua ini menunjukan bahwa Muhammad di wisuda sebagai seorang Rasul dan sekaligus metode dakwahnya yang telah usang di ganti dengan metode dakwah secara terang-terangan.
Rasulullah dalam mengajak ummat manusia untuk memeluk Agama Islam, mula-mula beliau mengajak kepada sanak kerabatnya, tetangganya baru kemudian orang lain.
Materi dakwah yang dibawakan Rasulullah berikutnya adalah
• Iman kepada Utusan-utusan Allah
Beriman kepada adanya hari Kiamat.
Suatu hari dimana manusia hidup kedua kalinya untuk dibalas tabungan amalnya di saat hidup di dunia serta dihukum sebagai pinjaman dosanya. Itulah hidup yang kekal di alam baka.
• Beribadah kepada Allah swt.
Secara berangsur-angsur. Rasulullah mula-mula menyuruh manusia untuk membacakan persaksianya (syahadat) sebagai bukti memeluk agama islam.
Sholat lima waktu
Seruan sholat lima waktu dimulai sejak adanya peristiwa asra’ mi’raj Rasulullah saw. Untuk menghadap Allah untuk menerima perintah sholat.
Berpuasa di bulan Ramadhan
Zakat
Haji ke baitullah (mekkah).
Disamping Rasulullah kepada Aqidah islam dan beberapa amal ibadah, beliau tidak menyampingkan budi pekerti yang mulia, seperti sopan santun, rukun tetangga, dan sebagainya ini terbukti pada sabda beliau:
“sesungguhnya aku (Muhammad) diutus (oleh Allah di dunia ini) tak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq budi pekerti yang mulia” H.R.Ahmad.
Di lain itu diseru pula tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan pergaulan sesama manusia. Seperti hukum waris, perkawinan, jual beli, qishash dan sebagainya.
b. Politik pemerintah
Rasulullah berdakwah dengan sahabat-sahabatnya di mekah makin lama dirasa semakin berat. Sebab sikap orang quraisy terhadap Rasulullah samakin sadis bahkan sampai mengancam nyawa dan raganya. Oleh karena itu demi keselamatan nyawa dan agamanya maka Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya berhijrah keluar daerah. Hijrah pertama di daerah Ethiopia (gagal) dan hijrah kedua ke negeri Madinah. Di Madinah inilah Rasulullah menetap dan berdakwah sampai wafatnya.
Hijrah ke Madinah ini, Rasulullah saw. Bukanlah semata-mata atas kehendaknya sendiri, namun memang atas permintaan orang Madinah sendiri, sehingga kebanyakan penduduk madinah secara terbuka menerima ajaran-ajaran Rasulullah.
Di Madinah Rasulullah mendapatkan sahabat( Anshor ) yang makin hari makin bertambah banyak. Akhirnya beliau menentukan strategi dakwahnya dengan menggunakan politik pemerintah yakni dengan mendirikan negara islam ( yang pertama kali ). Yang mana semua urusan negara, hukum, tata ekonomi, sosial, dan sebagainya berazaskan islam, hal ini berarti dakwah Islamiyah sebagai tujuan utama negara.
Jika dikaitkan antara metode-metode ceramah Rasulullah yang di atas dengan komunikasi. Kita akan mengaitkan komunikasi budaya dan komunikasi antar budaya.
Ketika kita berbicara komunikasi yang melibatkan orang-orang yang berbeda budaya, dan komunikasi antar budaya menjadi sangat penting. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berfikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Secara definisi Budaya sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang di peroleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.
Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, karena budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi.
Inilah yang dialami oleh masyarakat Quraisy yang beranggapan bahwa Rasulullah adalah orang sihir yang akan menghancurkan berhala yang di anggap sebagai warisan nenek moyang mereka. Perbedaan budaya sangat mempengaruhi berjalannya komunikasi, sedangkan yang akan dibawakan Rasulullah adalah untuk berdakwah.
Dengan demikian, komunikasi dapat didefinisikan sebagai apa yang terjadi bila makna diberikan pada suatu perilaku yang muncul. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, tidaklah menjadi syarat. Oleh karena itu setiap perilaku memiliki potensi komunikasi dan kita tidak dapat untuk tidak berkomunikasi.
c. Surat menyurat
Metode dakwar Rasulullah buka saja dengan cara politik akan tetapi menggunakan pula metode-metode yang lain dianataranya yaitu surat menyurat. Metode ini dilakukan oleh Rasulullah kepada berbagai negara tetangga seperti Yaman, Syam, dan sebagainya.
Adapun hasilnya sudah barang tentu ada yang menerima dan ada pula yang menolaknya. Beberapa metode seperti di atas menggambarkan secara metode beliau (Rasulullah) memiliki kecakapan yang lebih hebat bila dibanding dengan zaman mutakhir ini.
d. Peperangan
perintah untuk menahan diri untuk mengadakan konfrontasi (perang) terhadap kaum musyikin ini, adalah firman Allah:
Artinya: “tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘ tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikan zakat!” ( Q.S. An-Nisa’:77 )
Peperangan adalah metode dakwah Rasulullah yang paling terakhir, bila sudah tiada lagi jalan lain yang ditempuhnya seperti perang Badar, Uhud, Yamuk dan sebagainya.
Metode dengan menggunakan gencatan senjata ini memang tampaknya sangat membahayakan, karena tentara Raulullah lebih sedikit dibandingkan dengan entara orang kafir. Namun sejarah islam telah membuktikan bahwa peperangan Rasulullah dengan orang kafir jarang sekali menemui kekalahan. Dengan demikian berperang dapat menguntungkan dan menambah tersiarnya Agam Islam keberbagai arah penjuru alam.
Keadaan dakwah Nabi Muhammad saw. Serupa dengan keadaan dakwah Nabi Ibrahim as. Kita tidak mendapati di surat mana pun dalam Al-Qur’an bahwa beliau menyeru seseorang dari kaumnya dengan kata-kata yang jelas-jelas menunjukan kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan, sebelum hijrah. Bahkan kebanyakan seruannya di dalam surat-surat yang di turunkan pada permulaan kenabian, beliau menggunakan kata-kata: yaa ayyuhannaas ( wahai sekalian manusia ), yaa ayyuhal insaan ( wahai manusia ), yaa qaum ( wahai kaumku ), begitu pula seruan terhadap ahli kitab menggunakan yaa ahlal kitaab ( wahai ahli kitab ), atau seruan yang serupa dengan itu; bahkan sampai orang-orang munafik pun diseru dengan seruan umum sesudah ditaklukannya kota Mekah: yaa ayyuhalladziina aamanuu ( wahai orang-oran yang beriman ) dan tidak diarahkan kepada mereka seruan yang tegas dengan menggunakan kata yaa ayyuhal munafiquun ( wahai orang-orang munafik ).
Suatu dakwah tidak akan mendatangkan hasil bila tidak atas dasar program yang metodelogis dan bertahap. Itulah yang dibutuhkan oleh dakwah yang sebenar-benarnya. Ia bagaikan suatu landasan bagi dakwah yang benar, bahkan jiwa dan hakikatnya, di mana tidak akan terbentuk suatu dakwah yang benar tanpa itu: dakwah bagai raga tanpa jiwa dan bagai tulisan yang tidak jelas. Sebab dakwah ini tidak percaya dengan kebanaran yang patrial dan tidak memandang hal yang setengah-setengah dalam perbaikan.
Dakwah merupakan komunikasi ajaran-ajaran islam dari sesorang Da’i kepada ummat manusia. Keterlibatan aktifitas dakwah dalam upaya menangani peningkatan kehidupan beragama sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan bangsa maka muncul konsep dakwah pembangunan yang berpijak pada pandangan hidup bangsa dan nilai-nilai agama Islam diharapkan mampu menjadi motivator dan dinamisator bagi perilaku manusia membangun harapan.
Qur’an memberikan pengarahan juga dalam mengatasi masalah atas kemungkinan adanya kedua orang tua yang melarang anak-anaknya mengikuti ajakan kebenaran. Inilah pengarahan yang diberikan Al-Qur’an untuk diperhatikan:
“dan kami mewajibkan manusia ( berbuat ) kabaikan kepada kedua orang tua ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadakulah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Dan pada periode ini, ayat-ayat Al-Qur’an memfokuskan perhatiannyapada upaya membentuk jiwa-jiwa agar berahlaq mulia,mesucikannya dari segala bentuk sifat dan moral yang tercela dan membersihkan darinya semua hal yang menghambat perjalanan mencari Ridho Allah swt.
Artinya: “tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”. (Q.S. Asy-Syura:43)
Selain itu, berdasarkan pengarahan Allah swt. Nabi Muhammad saw. Menuntun para sahabatnya agar senantiasa mensucikan jiwa-jiwa mereka dengan sholat, zikir, dan istigfar ( memohon ampun ) sehingga semua perkara ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehati-hari. Dan ini adalah dalam rangka mempersiapkan mereka agar mampu mengemban tugas dan beban berat jihad yang sangat sulit pada fase-fase mendatang.
Dalam hal ini, Rasulullah saw. Terlihat memahami betul kekuasaan dan peran suatu kabilah dalam kehidupan anggotanya. Oleh karenanya, sebelum beradaptasi dan memanfaatkan fakta sosial ini untuk kepentingan dakwah tentunya dengan tetap memprioritaskan visi, misi dan hal-hal yang prisipil dalam dakwah. Rasulullah sudah yakin bahwa langkahnya akan mendatangkan simpati dan perlindungan kaumnya sejalan dengan tradisi lingkungan sosial dan adat istiadatnya.
Kesimpulan
Aktifitas dakwah pada hakekatnya adalah menyampaikan materi dakwah ( mengajak, mengajar, mendengarkan dan sebagainya ) kepada obyuknya untuk mencapai tujuan.
Sedangkan materi dakwah ataupun sifat kegiatanya selalu bersifat religius ( psychis ), maka dalam menyampaikannya memerlukan cara-cara ( strategi ) yang baik ( efektif dan efisien ) agar apa yang di sampaikan mudah di terimanya.
Nabi Muhammad saw. Benar-benar telah mempergunakan metode-metode dan sebab-sebab yang ada dalam kehidupan sosial yang beliau jumpai, bila sekiranya metode itu membantu penyiaran dawah. Ketika beliau memperkenalkan dakwah dan risalah beliau kepada pembesar-pembesar kabilah, beliau memerintahkan Ali ra. Untuk menyiapkan hidangan dan mengundang para tamu, dan beliau mulai berpidato di hadapan mereka, lalu beliau bertanya kepada mereka, siapa diantara mereka yang mau membantu Nabi untuk berdakwah, semu tidak ada yang menjawab, tidak lama kemudian Ali pun menyatakan dan pertolongan dan dukungannya kepada beliau.
Nabi pun mulai menggunakan metode-metode lain yang mempunyai pengaruh besar dalam perluasan dakwah: beliau juga menggunakan cara koresponden. Beliau mengirimkan kepada banyak pembesar surat-surat yang isinyamemperkenalkan dakwah. Nabi Muhammad telah menggunakan segala media yang dipergunakan orang-orang pada waktu ituuntuk menyatukan pandangan, mengajak kepada suatu fahamdan menarik perhatian untuk tujuan khusus, bila beliau tidak melihat media itu bertentangan dengan prinsip-prinsip akhlak dari syariat yang beliau bawa.
Dengan demikian keseluruhan isi makalah ini dapat disimpulkan bahwa:
Firman Allah swt.
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar